Wisata Budaya | Kota Pangkalpinang
Barongsai
Permainan Barongsai biasanya dilakukan pada saat upacara dan biasanya digelar saat bulan purnama atau pada acara acara khusus masyarakat keturunan Tionghoa seperti peringatan Imlek, Cap Go Meh, Sembahyang Rebut (Ghost Hungry), Sembahyang Kubur (Ceng Beng), Pot Ngin Bun, Peh Cun dan upacara kemasyarakatan lainnya. Pada acara keagamaan biasanya pertunjukan Barongsai diadakan di Kelenteng kelenteng besar Kota Pangkalpinang, seperti Kelenteng Kwan Tie Miau, dan Kelenteng Satya Budi. Pertunjukan Barongsai juga sering dilombakan.Cheng Beng
Ritual Ceng Beng atau sembahyang kubur merupakan upacara perwujudan dari sikap masyarakat Tionghoa yang sangat mencintai dan menghormati leluhurnya, seluruh keluarga baik yang ada di Pangkalpinang atau di perantauan berupaya untuk pulang dan melaksanakan ritual. Kegiatan Ritual dimulai dengan membersihkan kuburan atau pendem biasanya dilakukan 10 hari sebelum pelaksanaan Ceng Beng. Puncak kegiatan dilaksanakan pada tiap tanggal 5 April kalender Masehi. Kegiatan dilaksanakan sejak dini hari hingga terbit fajar dengan melakukan sembahyang dan meletakkan sesajian berupa aneka buah buahan (sam kuo), ayam atau babi (sam sang), arak, aneka kue, dan makanan Vegetarian (cai choi), uang kertas (kim cin) dan membakar garu (hio), suasana di pekuburan khususnya di pekuburan Sentausa pada saat itu sangat semarak dengan Lampion dan beraroma hio yang menyengat hidung serta diiringi dengan alunan musik Belaz Band atau Tanjidor.Wisata Budaya | Kab. Bangka
Nganggung
Sebagai bagian dari rentang dan rumpun tanah Melayu, Pangkalpinang memiliki beragam adapt istiadat dan budaya. Keanekaragaman etnis dari berbagai nusantara membentuk budaya yang unik dan menarik, serta kesenian tradisional yang terus berkembang pesat. Nganggung, merupakan tradisi gotong royong masyarakat Kota Pangkalpinang dengan membawa makanan lengkap di atas Dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji. Tiap pintu rumah (keluarga) membawa satu dulang yang terbuat dari Kuningan, berisi makanan sesuai dengan status dan kemampuan keluarga tersebut. Tradisi Nganggung sering juga disebut dengan adat Sepintu Sedulang. Tradisi ini biasanya dilakukan pada upacara upacara keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Mauludan, Nisfu Sya’ban, dan pada kegiatan Muharam. Kegiatan Nganggung biasanya dilakukan di Masjid dan di Kota Pangkalpinang sering dilaksanakan Nganggung Akbar di Rumah Dinas Walikota setelah dilaksanakan pawai Taaruf.Wisata Budaya | Kab. Bangka Barat
Perang Ketupat
Perang Ketupat merupakan salah satu ritual upacara masyarakat Tempilang (Kabupaten Bangka Barat). Upacara ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di daratan. Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus yang bertabiat baik dan menjadi penjaga desa dari roh-roh jahat. Oleh Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.

Sedekah Kampung Peradong
Sedekah kampung merupakan salah satu budaya peninggalan/warisan penduduk asli Desa Peradong Simpang Teritip. Perayaan sedekah kampung ini telah dilaksanakan secara turun temurun tidak ada yang tahu asal usulnya. Perayaan ini biasa dilaksanakan penduduk Desa Peradong tiap tahun bertepatan dengan bulan maulud dan biasanya acara ini berlangsung selama 3(tiga) hari.
Pada hari yang telah ditetapkan, seorang dukun sebagai pawang desa dengan dibantu oleh dua orang asistennya memulai membuat batu pensucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan garu (dupa) dari kayu bolo (bambu). Menurut sang dukun pada dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik orang-orang Cina yang berdiam didesa tersebut agar memeluk agama Islam.
Setelah semua persiapan telah dilaksanakan, sang dukun memulai dengan pembacaan mantera dan dilanjutkan dengan pemberian tangkal (jimat), dimulai dari gerbang pintu masuk ke desa sampai perbatasan akhir desa terdebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung. Untuk diketahui pembaca, didalam pelaksanaan upacara ini terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini. Pantangan-pantangan yang dimaksud adalah duduk diatas pagar, bermain-main dengan lampu senter, duduk didepan pintu dan penggunaan lampu blits camera. Apabila pantangan tersebut sampai dilanggar maka yang terjadi adalah datangnya makhluk-makhluk halus yang mengganggu penduduk dan mengubahnya menjadi kepulir (kepala dengan wajah menghadap ke belakang).
Setelah naber kampung dilaksanakan, upacara ini dilanjutkan dengan ceriah (pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan bahwa akan dilaksanakannya upacara adat. Setelah semua penduduk berkumpul, upacara dilanjutkan menuju stan (makam para leluhur, dengan diiringi alunan musik -musik tertentu. Tujuan mengunjungi acara ini adalah untuk meminta izin kepada leluhur bahwa akan dilaksanakannya upacara adat. Setelah sampai di sana, sang dukun kemudian duduk diatas makam bersamaan dengan dihidangkannya bermacam jenis makanan khas desa, uang serta hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, lalu mulai pembacaan doa dan mantera. Setelah pembacaan mantera dan doa selesai, penduduk naik ke atas makam dan memperebutkan ayam serta uang yang ada diatas makam. Upacara kemudian dilanjutkan dengan silat yang dilakukan oleh 2 orang. Setelah selesai kemudian acara dilanjutkan kembali dengan makan bersama disekitar makan hasil dari sumbangan para penduduk.
Setelah selesai meminta izin dengan mengunjungi selama upacara awal telah selesai dan kemudian diselingi dengan acara musik Dambus dan Campak serta nyanyian lagu-lagu daerah dan diiringi dengan tarian yang dibawakan oleh ibu-ibu dan gadis-gadis penduduk.
Wisata Budaya | Kab. Bangka Selatan
Ritual Buang Jung (Selamatan Laut)
Ritual suci Suku Sawang, suku asli dari pulau Belitung. Upacara diselenggarakan di tepi pantai dengan cara menghayutkan sebuah kapal kecil yang dihiasi daun kelapa dan beberapa macam bahan persembahan di dalamnya. Upacara ini dilakukan di Kabupaten di Bangka Selatan menjelang datangnya musim Barat. Tujuan upacara ini untuk memohon keselamatan bagi mereka akan melaut.
Pure Bali Simpang Rimba

Pura Bali ini terletak di Dusun Trans III Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 110 km dari Kota Toboali dan untuk mencapai lokasi pura ini dapat di tempuh selama 2 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.Wisata Budaya | Bangka Belitung
Tari Mutik Sahang

Tarian Selamat Datang
Wisata Budaya | Kab. Belitung
Tari Sepen


Tidak ada komentar:
Posting Komentar